Ada kesalahan di dalam gadget ini

Kamis, 01 November 2012

alat ukur dan pengukuran

211
BAB 8
ALAT UKUR DAN PENGUKURAN LISTRIK
8.1 Alat Ukur Listrik
Untuk mengetahui besaran listrik DC maupun AC seperti tegangan, arus, resistansi,
daya, faktor kerja, dan frekuensi kita menggunakan alat ukur listrik.
Awalnya dipakai alat-alat ukur analog dengan penunjukan menggunakan jarum dan membaca
dari skala. Kini banyak dipakai alat ukur listrik digital yang praktis dan hasilnya tinggal
membaca pada layar display (Gambar 8.1).
Bahkan dalam satu alat ukur listrik dapat digunakan untuk mengukur beberapa besaran,
misalnya tegangan AC dan DC, arus listrik DC dan AC, resistansi kita menyebutnya Multimeter.
Untuk kebutuhan praktis tetap dipakai alat ukur tunggal, misalnya untuk mengukur
tegangan saja, atau daya listrik saja.
Sampai saat ini alat ukur analog masih tetap digunakan karena handal, ekonomis, dan
praktis (Gambar 8.2). Namun alat ukur digital makin luas dipakai, karena harganya makin
terjangkau, praktis dalam pemakaian, dan penunjukannya makin akurat dan presisi.
Ada beberapa istilah dan definisi pengukuran listrik yang harus dipahami, diantaranya
alat ukur, akurasi, presisi, kepekaan, resolusi, dan kesalahan.
a. Alat ukur, adalah perangkat untuk menentu kan nilai atau besaran dari kuantitas atau
variabel.
b. Akurasi, kedekatan alat ukur membaca pada nilai yang sebenarnya dari variabel yang
diukur.
c. Presisi, hasil pengukuran yang dihasilkan dari proses pengukuran, atau derajat untuk
membedakan satu pengukuran dengan lainnya.
Gambar 8.1 Tampilan meter digital Gambar 8.2 Meter listrik analog
212
d. Kepekaan, ratio dari sinyal output atau tanggapan alat ukur perubahan input atau variabel
yang diukur.
e. Resolusi, perubahan terkecil dari nilai pengukuran yang mampu ditanggapi oleh alat
ukur.
f. Kesalahan, angka penyimpangan dari nilai sebenarnya variabel yang diukur.
8.2 Sistem Satuan
Pada awal perkembangan teknik pengukuran mengenal dua sistem satuan, yaitu sistem
metrik (dipelopori Prancis sejak 1795). Amerika Serikat dan Inggris juga menggunakan sistem
metrik untuk kepentingan internasional, tapi untuk kebutuhan lokal menggunakan sistem
CGS (centimeter-gram-second). Sejak tahun 1960 dikenalkan Sistem Internasional (SI Unit)
sebagai kesepakatan internasional. Enam besaran yang dinyatakan dalam sistem SI, yaitu:
Tabel 8.1. Besaran Sistem Internasional
Besaran Satuan Simbol
Panjang meter m
Massa kilogram kg
Waktu detik s
Arus listrik amper A
Temperatur thermodinamika derajat kelvin 0K
Intensitas cahaya candela Cd
Secara praktis besaran listrik yang sering digunakan adalah volt, amper, ohm, henry,
dan sebagainya. Kini sistem SI sudah membuat daftar besaran, satuan dan simbol di bidang
kelistrikan dan kemagnetan berlaku internasional.
Tabel 8.2. Besaran dan Simbol Kelistrikan
Besaran dan simbol Nama dan simbol Persamaan
Arus listrik, I amper A -
Gaya gerak listrik, E volt, V V -
Tegangan, V volt, V V -
Resistansi, R ohm, Ω R = V/I
Muatan listrik, Q coulomb C Q = It
Kapasitansi, C farad F C = Q/V
Kuat medan listrik, E - V/m E = V/l
Kerapatan fluk listrik, D - C/m2 D = Q/I2
213
Besaran dan simbol Nama dan simbol Persamaan
Permittivity, ε - F/m ε = D/E
Kuat medan magnet, H - A/m ∫ Hdl = nI
Fluk magnet, Φ weber Wb E =dΦ/dt
Kerapatan medan magnet, B tesla T B = Φ/I2
Induktansi, L, M henry H M = Φ/I
Permeability, μ - H/m μ = B/H
8.3 Ukuran Standar Kelistrikan
Ukuran standar dalam pengukuran sangat penting, karena sebagai acuan dalam peneraan
alat ukur yang diakui oleh komunitas internasional. Ada enam besaran yang berhubungan
dengan kelistrikan yang dibuat sebagai standar, yaitu standar amper, resistansi, tegangan,
kapasitansi, induktansi, kemagnetan, dan temperatur.
1. Standar amper
menurut ketentuan Standar Internasional (SI) adalah arus konstan yang dialirkan pada
dua konduktor dalam ruang hampa udara dengan jarak 1 meter, di antara kedua
penghantar menimbulkan gaya = 2 × 10-7 newton/m panjang.
2. Standar resistansi
menurut ketentuan SI adalah kawat alloy manganin resistansi 1Ω yang memiliki tahanan
listrik tinggi dan koefisien temperatur rendah, ditempatkan dalam tabung terisolasi yang
menjaga dari perubahan temperatur atmosfer.
3. Standar tegangan
ketentuan SI adalah tabung gelas Weston mirip huruh H memiliki dua elektrode, tabung
elektrode positip berisi elektrolit mercury dan tabung elektrode negatip diisi elektrolit
cadmium, ditempatkan dalam suhu ruangan. Tegangan elektrode Weston pada suhu
20°C sebesar 1.01858 V.
4. Standar Kapasitansi
menurut ketentuan SI, diturunkan dari standart resistansi SI dan standar tegangan SI,
dengan menggunakan sistem jembatan Maxwell, dengan diketahui resistansi dan
frekuensi secara teliti akan diperoleh standar kapasitansi (farad).
5. Standar Induktansi
menurut ketentuan SI, diturunkan dari standar resistansi dan standar kapasitansi, dengan
metode geometris, standar induktor akan diperoleh.
6. Standart temperatur menurut ketentuan SI, diukur dengan derajat kelvin besaran derajat
kelvin didasarkan pada tiga titik acuan air saat kondisi menjadi es, menjadi air dan saat
air mendidih. Air menjadi es sama dengan 0° celsius = 273,160 kelvin, air mendidih
100°C.
7. Standar luminasi cahaya menurut ketentuan SI,
214
8.4 Sistem Pengukuran
Ada dua sistem pengukuran yaitu sistem analog dan sistem digital. Sistem analog
berhubungan dengan informasi dan data analog. Sinyal analog berbentuk fungsi kontinyu,
misalnya penunjukan temperatur dalam ditunjukkan oleh skala, penunjuk jarum pada skala
meter, atau penunjukan skala elektronik (Gambar 8.3a).
Sistem digital berhubungan dengan informasi dan data digital. Penunjukan angka digital
berupa angka diskret dan pulsa diskontinyu berhubungan dengan waktu. Penunjukan display
dari tegangan atau arus dari meter digital berupa angka tanpa harus membaca dari
skala meter. Sakelar pemindah frekuensi pada pesawat HT juga merupakan angka digital
dalam bentuk digital (Gambar 8.3b).
8.5 Alat Ukur Listrik Analog
Alat ukur listrik analog merupakan alat
ukur generasi awal dan sampai saat ini
masih digunakan. Bagiannya banyak
komponen listrik dan mekanik yang saling
berhubungan. Bagian listrik yang penting
adalah, magnet permanen, tahanan meter,
dan kumparan putar. Bagian mekanik
meliputi jarum penunjuk, skala dan sekrup
pengatur jarum penunjuk (Gambar 8.4).
Gambar 8.3 Penunjukan meter analog dan meter digital
Gambar 8.4 Komponen alat ukur listrik analog
215
Mekanik pengatur jarum penunjuk
merupakan dudukan poros kumparan putar
yang diatur kekencangannya (Gambar
8.5). Jika terlalu kencang jarum akan
terhambat, jika terlalu kendor jarum akan
mudah goncang. Pengaturan jarum
penunjuk sekaligus untuk memposisikan
jarum pada skala nol meter.
Alat ukur analog memiliki komponen putar yang akan bereaksi begitu mendapat sinyal
listrik. Cara bereaksi jarum penunjuk ada yang menyimpang dulu baru menunjukkan angka
pengukuran. Atau jarum penunjuk bergerak ke angka penunjukan perlahan-lahan tanpa ada
penyimpangan. Untuk itu digunakan peredam mekanik berupa pegas yang terpasang pada
poros jarum atau bilah sebagai penahan gerakan jarum berupa bilah dalam ruang udara
(Gambar 8.6). Pada meter dengan kelas industri baik dari jenis kumparan putar maupun
jenis besi putar seperti meter yang dipasang pada panel meter banyak dipakai peredam
jenis pegas.
Bentuk skala memanjang saat kini jarang ditemukan. Bentuk skala melingkar dan skala
kuadran banyak dipakai untuk alat ukur voltmeter dan ampermeter pada panel meter
(Gambar 8.7).
8.6 Multimeter Analog
Multimeter salah satu meter analog yang banyak
dipakai untuk pekerjaan kelistrikan dan bidang
elektronika (Gambar 8.8).
Multimeter memiliki tiga fungsi pengukuran, yaitu
1. Voltmeter untuk tegangan AC dengan batas ukur
0-500 V, pengukuran tegangan DC dengan batas
ukur 0-0,5 V dan 0-500 V.
2. Ampermeter untuk arus listrik DC dengan batas
ukur 0-50 μA dan 0-15 A, pengukuran arus listrik
AC 0-15 A.
3. Ohmmeter dengan batas ukur dari 1Ω-1MΩ.
Gambar 8.5 Dudukan poros jarum penunjuk
Gambar 8.6 Pola penyimpangan jarum meter analog Gambar 8.7 Jenis skala meter analog
Gambar 8.8 Multimeter analog
216
Gambar 8.10 Prinsip kerja alat ukur digital
Gambar 8.11 Tiga jenis display digital
8.7 Alat Ukur Digital
Alat ukur digital saat sekarang banyak
dipakai dengan berbagai kelebihannya,
murah, mudah dioperaikan, dan praktis.
Multimeter digital mampu menampilkan
beberapa pengukuran untuk arus miliamper,
temperatur °C, tegangan milivolt, resistansi
ohm, frekuensi Hz, daya listrik mW sampai
kapasitansi nF (Gambar 8.9).
Pada dasarnya data /informasi yang akan diukur bersifat analog. Blok
diagram alat ukur digital terdiri komponen sensor, penguat sinyal analog, analog to digital
converter, mikroprosesor, alat cetak, dan display digital (Gambar 8.10).
Sensor mengubah besaran
listrik dan non elektrik menjadi
tegangan, karena tegangan masih
dalam orde mV perlu diperkuat oleh
penguat input.
Sinyal input analog yang sudah diperkuat, dari sinyal analog diubah menjadi sinyal digital
dengan (ADC) analog to digital akan diolah oleh perangkat PC atau mikroprosessor dengan
program tertentu dan hasil pengolahan disimpan dalam sistem memori digital. Informasi digital
ditampilkan dalam display atau dihubungkan dicetak dengan mesin cetak.
Display digital akan menampilkan angka diskrit dari 0 sampai angka 9 ada tiga jenis,
yaitu 7-segmen, 14-segmen dan dot matrik 5 x 7 (Gambar 8.11). Sinyal digital terdiri atas 0
dan 1, ketika sinyal 0 tidak bertegangan atau OFF, ketika sinyal 1 bertegangan atau ON.
Gambar 8.9 Tampilan penunjukan digital
Gambar 8.12 Multimeter digital AC dan DC
217
Sebuah multimeter digital, terdiri dari tiga jenis alat ukur sekaligus, yaitu mengukur
tegangan, arus, dan tahanan. Mampu untuk mengukur besaran listrik DC maupun AC
(Gambar 8.12).
Sakelar pemilih mode digunakan untuk pemilihan jenis pengukuran, mencakup tegangan
AC/DC, pengukuran arus AC/DC, pengukuran tahanan, pengukuran diode, dan pengukuran
kapasitor.
Terminal kabel untuk tegangan dengan arus berbeda. Terminal untuk pengukuran arus
kecil 300 mA dengan arus sampai 10 A dibedakan.
8.8 Alat Ukur Analog Kumparan Putar
Konstruksi alat ukur kumparan putar terdiri dari permanen magnet, kumparan putar dengan
inti besi bulat, jarum penunjuk terikat dengan poros dan inti besi putar, skala linear, dan
pegas spiral rambut, serta pengatur posisi nol (Gambar 8.13). Torsi yang dihasilkan dari
interaksi elektromagnetik sesuai persamaan:
T = B × A × I × N
T = Torsi (Nm)
B = kerapatan fluk magnet (Wb/m2)
A = luas efektif koil (m2)
I = arus ke kumparan putar (A)
N = jumlah belitan
Dari persamaan di atas, komponen B, A
dan N adalah konstan, sehingga torsi
berbanding lurus dengan arus mengalir ke
kumparan putar. Data alat ukur kumparan
putar dengan dimensi 31/2 in, arus 1mA,
simpangan skala penuh 100 derajat memiliki
A : 1,72 cm2, B : 2.000 G(0,2 Wb/m2, N: 84
lilit, T : 2,92 × 10–6 Nm R kumparan putar:
88Ω, disipasi daya: 88 μW.
Untuk pengukuran listrik AC alat ukur kumparan putar ditambahkan komponen
tambahan, yaitu diode bridge sebagai penyearah AC ke DC (Gambar 8.14).
Tahanan seri RV untuk mendrop
tegangan sehingga batas ukur dan
skala pukuran sesuai. Sehingga
tahanan total RT = RV + R. Multimeter
menggunakan kumparan putar sebagai
penggerak jarum penunjuknya.
Gambar 8.13 Prinsip Alat Ukur Kumparan Putar
Gambar 8.14 Meter kumparan putar dengan
diode penyearah
218
Gambar 8.17 Pemasangan wattmeter
Gambar 8.16 Prinsip elektrodinamik
Gambar 8.15 Prinsip alat ukur besi putar
8.9 Alat Ukur Besi Putar
Alat ukur besi putar memiliki anatomi yang
berbeda dengan kumparan putar. Sebuah belitan
kawat dengan rongga tabung untuk
menghasilkan medan elektromagnetik (Gambar
8.15).
Di dalam rongga tabung dipasang sirip besi
yang dihubungkan dengan poros dan jarum
penunjuk skala meter. Jika arus melalui belitan
kawat, timbul elektromagnetik dan sirip besi akan
bergerak mengikuti hukum tarik-menarik medan
magnet.
Besarnya simpangan jarum dengan kuadrat arus yang melewati belitan skala meter
bukan linear tetapi jaraknya angka non-linear. Alat ukur besi putar sederhana bentuknya dan
cukup handal.
8.10 Alat Ukur Elektrodinamik
Alat ukur elektrode memiliki dua jenis
belitan kawat, yaitu belitan kawat arus yang
dipasang, dan belitan kawat tegangan
sebagai kumparan putar terhubung dengan
poros dan jarum penunjuk (Gambar 8.16).
Interaksi medan magnet belitan arus dan
belitan tegangan menghasilkan sudut
penyimpangan jarum penunjuk sebanding
dengan daya yang dipakai beban:
P = V · I · cos θ
Pemakaian alat ukur elektrodinamik
sebagai pengukur daya listrik atau
wattmeter.
Pemasangan wattmeter dengan notasi terminal
1, 2, 3, dan 5. Terminal 1-3 terhubung ke
belitan arus Wattmeter, terhubung seri dengan
beban. Terminal 2-5 terhubung ke belitan
tegangan Wattmeter. Terminal 1-2 dikopel untuk
mendapatkan catu tegangan suplai tegangan
(Gambar 8.17).
219
Pemasangan terminal meter tidak boleh
tertukar, karena akibatnya meter tidak
berfungsi. Untuk pengukuran daya besar, di
mana arus beban besar dapat digunakan trafo
CT untuk menurunkan arus yang mengalir
belitan arus wattmeter.
Misalkan daya motor 3 phasa 55 kW
dengan tegangan 400 V akan menarik arus jalajala
100 A. Kemampuan kWH meter maksimal
dilalui arus hanya 10 A, maka digunakan trafo
arus CT dengan rating 100/5 A agar pengukuran
daya motor dapat dilaksanakan.
Wattmeter portabel pengawatan dengan
beban (Gambar 8.18). Ada tiga buah selektor
switch, untuk pengaturan amper, pengaturan
tegangan, dan pemilihan skala batas ukur.
Untuk keamanan tempatkan selektor amper
dan selektor tegangan pada batas ukur
tertinggi. Jika jarum penunjuk sudut
simpangannya masih kecil baru selektor switch
arus atau tegangan diturunkan satu tahap.
Alat ukur piringan putar tidak menggunakan jarum penunjuk. Konstruksi meter piringan
putar memiliki dua inti besi (Gambar 8.19). Inti besi U dipasang dua buah belitan arus pada
masing-masing kaki inti, menggunakan kawat berpenampang besar. Inti besi berbentuk E-I
dengan satu belitan tegangan, dipasang pada kaki tengah inti besi, jumlah belitan tegangan
lebih banyak dengan penampang kawat halus.
Gambar 8.18 Pengawatan wattmeter
dengan beban satu phasa
Gambar 8.19 Prinsip alat ukur piringan putar
(kWH-meter)
Gambar 8.20 kWH-meter
220
Piringan putar aluminium ditempatkan di antara dua inti besi U dan E-I. Akibat efek
elektromagnetis kedua inti besi tersebut, pada piringan aluminium timbul arus Eddy yang
menyebabkan torsi putar pada piringan.
Piringan aluminium berputar bertumpu pada poros, kecepatan putaran sebanding dengan
daya dari beban. Jumlah putaran sebanding dengan energi yang dipakai beban dalam rentang
waktu tertentu. Meter piringan putar disebut kilowatthours (kWh)-meter (Gambar 8.20).
8.11 Alat Ukur Piringan Putar
Pengawatan kWh-meter satu phasa belitan arus dihubungkan ke terminal 1-3, belitan
tegangan disambungkan terminal 2-6, terminal 1-2 dikopel, dan terminal 4-6 juga dikopel
langsung. Pengawatan kWh-meter tiga phasa dengan empat kawat (Gambar 8.21)
L1, L2, L3 dan N memiliki tiga belitan arus dan tiga belitan tegangan.
1. Jala-jala L1, terminal-1 ke belitan arus-1 terminal-3 ke beban, terminal 1-2 dikopel untuk
suplai ke belitan tegangan-1.
2. Jala-jala L2, terminal-4 ke belitan arus-2 terminal 6 langsung beban, terminal 4-5 dikopel
suplai ke belitan tegangan-2.
3. Jala-jala L3, terminal-7 ke belitan arus-3 ke terminal 9 langsung beban, terminal 7-8
dikopel untuk suplai ke belitan tegangan-3.
4. Terminal 10 dan 12, untuk penyambungan kawat netral N dan penyambungan dari ketiga
belitan tegangan phasa 1, 2, dan 3.
Bentuk fisik kWh-meter kita lihat di setiap rumah tinggal dengan instalasi dari PLN.
Sebagai pengukur energi listrik kWhmeter mengukur daya pada interval waktu tertentu dalam
konversi waktu jam. Setiap kWh-meter memiliki angka konstanta jumlah putaran /kWh.
Cz =
n
P
Cz Konstanta jumlah putaran/kWh
n Putaran
P Daya listrik kW
Contoh: kWh-meter satu phasa memiliki konstanta putaran 600 putaran/kWh dalam waktu
1 menit tercatat 33 putaran piringan. Hitunglah beban daya listrik!
Jawaban: P =
n
Cz =
60 33 1/
600 1/
h
kWh
⋅ ⋅
⋅ = 33 kW
Gambar 8.21 Pengawatan kWH-meter satu phasa dan tiga phasa
221
8.12 Pengukuran Tegangan DC
Pengukur tegangan voltmeter memiliki
tahanan meter Rm (Gambar 8.22). Tahanan dalam
meter juga menunjukkan kepekaan meter, disebut
Ifsd (full scale deflection) arus yang diperlukan
untuk menggerakkan jarum meter pada skala
penuh. Untuk menaikkan batas ukur voltmeter
harus dipasang tahanan seri sebesar RV.
Persamaan tahanan seri meter RV:
Rv = v
m
U
I = m
m
U U
I

Rv = {n – 1} · Rm
Rv = Tahan seri meter
Rm = Tahanan dalam meter
U = Tegangan
Um = Tegangan meter
Im = Arus meter
n = Faktor perkalian
Contoh: Pengukur tegangan voltmeter memiliki arus meter 0,6 mA dan tegangan meter 0,3
V. Voltmeter akan digunakan untuk mengukur tegangan 1,5 V. Hitung besarnya tahanan seri
meter Rv.
Jawaban:
Rv = v
m
U
I = m
m
U U
I

=
1,5 0,3
0,6
V V
mA

= 2 kΩ
8.13 Pengukuran Arus DC
Pengukur arus listrik ampermeter
memiliki keterbatasan untuk dapat
mengukur arus, tahanan dalam meter Rm
membatasi kemampuan batas ukur.
Menaikkan batas ukur dilakukan dengan
memasang tahanan paralel Rp dengan
ampermeter (Gambar 8.23). Tahanan Rp
akan dialiri arus sebesar Ip, arus yang
melalui meter Rm sebesar Im.
Gambar 8.22 Tahanan seri RV pada voltmeter
Gambar 8.23 Tahanan paralel ampermeter
222
Untuk menaikkan tahanan dalam meter, di
depan tahanan meter Rm ditambahkan
tahanan seri Rv. Sehingga tahanan dalam
meter yang baru (Rm + Rv) (Gambar 8.24).
Tahanan paralel Rp tetap dialiri arus Ip,
sedangkan arus yang melewati (Rm + Rv)
sebesar Im. Persamaan tahanan paralel Rp:
Rp =
p
U
I ; Rp =
m
U
I − I
Rp = Rm = m
m
I
I − I
Rp = Tahanan paralel
U = Tegangan
I = Arus yang diukur
Im = Arus melewati meter
Ip = Arus melewati tahanan paralel
Rm = Tahanan dalam meter
Contoh:Ampermeter dengan tahanan dalam Rm = 100 Ω, arus yang diizinkan
melewati meter I m = 0,6 mA. Ampermeter akan mengukur arus I = 6 mA. Hitung tahanan
paralel Rp.
Jawaban:
U = Im · Rm = 0,6 mA · 100 Ω = 60 mA
Rp =
m
U
I − I
=
0,6 mV
6 mA − 0,6 A = 11,1 Ω
Atau dengan cara yang lain, didapatkan harga Rp yang sama:
p
m
R
R = m
p
I
I = m
m
I
I − I ⇒ Rp = Rm · m
m
I
I − I
Rp = 100 Ω ·
0,6 mA
6 mA − 0,6 A = 11,1 Ω
Secara praktis untuk mendapatkan batas ukur yang lebar dibuat menjadi tiga tingkatan
(Gambar 8.25). Batas ukur skala pertama, sakelar pada posisi 1 dipakai tahanan paralel
Rp1. Batas ukur dengan skala 2 posisi sakelar 2 dipakai tahanan paralel Rp2. Batas ukur
ketiga, posisi sakelar 3 dipakai tahanan paralel Rp3.
Dengan metoda berbeda dengan tujuan memperluas batas ukur, dipakai tiga tahanan
paralel Rp1, Rp2, dan Rp3 yang ketiganya disambung seri (Gambar 8.26). Sakelar posisi 1,
tahanan (Rp1 + Rp2 + Rp3) paralel dengan rangkaian (Rv + Rm). Sakelar posisi 2, tahanan
(Rp2 + Rp3) paralel dengan rangkaian (Rp1 + Rv + Rm). Saat sakelar posisi 3, tahanan Rp3
paralel dengan rangkaian (Rp1 + Rp2 + Rv + Rm).
Gambar 8.24 Tahanan depan dan paralel
ampermeter
223
8.14 Pengukuran Tahanan
Pengukuran tahanan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu mengukur langsung nilai
tahanan dan pengukuran tidak langsung dengan metode jembatan (Gambar 8.27).
Pengukuran tahanan secara langsung bisa menggunakan multimeter, dengan menempatkan
selektor pemilih mode pada pengukuran tahanan. Resistor yang diukur dihubungkan dengan
kedua kabel meter dan nilai tahanan terbaca pada skala meter. Pengukuran tidak langsung,
menggunakan alat meter tahanan khusus dengan prinsip kerja seperti jembatan
Wheatstone.
8.15 Jembatan Wheatstone
Pengembangan rangkaian resistor seri dan paralel
menghasilkan prinsip Jembatan Wheatstone (Gambar
8.29). Sumber tegangan DC mencatu rangkaian empat
buah resistor. R1 seri dengan R2, dan R3 seri dengan R4.
Hukum Kirchoff tegangan menyatakan jumlah drop
tegangan sama dengan tegangan sumber.
U = U1 + U2 dan U = U3 + U4
Gambar 8.26 Penambahan batas ukur meter
Gambar 8.27 Jenis-jenis Pengukuran Tahanan
Gambar 8.25 Batas ukur ampermeter
Gambar 8.28 Rangkaian jembatan
Wheatstone
224
Titik A-B dipasang Voltmeter mengukur beda tegangan, jika meter menunjukkan nol,
artinya tegangan U1 = U3 disebut kondisi seimbang. Jika U1 ≠ U3 disebut kondisi tidak
seimbang dan meter menunjukkan angka tertentu.
UAB = 0 V, 1
2
U
U = 3
4
U
U
1
2
R
R = 3
4
R
R
R1, Rx Tahanan yang dicari
R2, Rn Tahanan variable
R3, R4 Tahanan ditetapkan, konstan
Aplikasi praktis dipakai model Gambar 8.30, R1 = Rx merupakan tahanan yang dicari
besarannya. R2 = Rn adalah tahanan yang bisa diatur besarannya. R3 dan R4 dari tahanan
geser. Dengan mengatur posisi tahanan geser B, sampai Voltmeter posisi nol. Kondisi ini
disebut setimbang, maka berlaku rumus kesetimbangan jembatan Wheatstone.
Contoh:
Jembatan Wheatstone, diketahui besarnya nilai
R2 = 40 Ω, R3 = 25 Ω, R4 = 50 Ω. Hitung besarnya
R1 dalam kondisi setimbang.
Jawaban:
UAB = 0 V
1
2
R
R = 3
4
R
R ⇒ R1 = 2 3
4
R R
R
⋅ = 40 25
50
Ω− Ω
Ω
8.16 Osiloskop
Osiloskop termasuk alat ukur elektronik,
digunakan untuk melihat bentuk gelombang,
menganalisis gelombang, dan fenomena lain dalam
rangkaian elektronika (Gambar 8.31). Dengan
osiloskop dapat melihat amplitudo tegangan dan
gelombang kotak, oleh karena itu harga rata-rata,
puncak, RMS (root mean square), maupun harga
puncak kepuncak atau Vp-p dari tegangan dapat kita
ukur. Selain itu, juga hubungan antara frekuensi dan
phasa antara dua gelombang juga dapat
dibandingkan. Ada dua jenis osiloskop, yaitu
osiloskop analog dan osiloskop digital.
Gambar 8.29 Pengembangan model
Wheatstone
Gambar 8.30 Bentuk fisik osiloskop
225
8.17 Data Teknik Osiloskop
• Arah Vertikal
Menampilkan Kanal-1 (K-1) atau Kanal-2 (K-2), Kanal-1 dan Kanal-2 AC atau chop
Menjumlah atau Mengurangkan nilai Kanal-1 dan Kanal-2
Tampilan X-Y : Melalui K-1 dan K-2 (K-2 dapat dibalik/ diinvers)
Lebar-Pita : 2 x 0 . . . . 40 MHz (-3dB)
Kenaikan waktu : 7 ns, simpangan: < 1%
Koefisien : di set 1 mV/cm . . . 20V/cm ± 3%
Impedansi Input : 1 MΩ II 20 pF
Kopel Input : DC-AC-GND (Ground)
Tegangan Input maks. : 400 V
• Arah Horisontal:
Koefisien waktu: 21 × 0,5 s sampai 100 ns/cm ± 3% (1-2-5 bagian),
Lebar-pita penguat-X: 0……2,5 MHz (-3dB)
• Pembeda
Ukuran layar : 8 × 10 cm, raster dalam
Tegangan akselarasi : 2000 V
Kalibrator : generator kotak 1 kHz atau 1 MHz
Output : 0,2 V ± 1%
8.18 Osiloskop Analog
Blok diagram dasar osiloskop yang terdiri dari
pemancar elektron (Electron Beam), pembelok vertikal
(Penguat-Y), pembelok horizontal (penguat-X), generator
basis waktu (Sweep Generator), catu daya, dan tabung
hampa (CRT) lihat Gambar 8.32.
Pemancar Elektron:
Merupakan bagian terpenting sebuah osiloskop.
Katode di dalam CRT (Cathode Ray Tube) akan
mengemisikan elektron-elektron ke layar CRT
melalui elektrode-elektrode pemfokus intensitas
pancaran elektron ditentukan oleh banyaknya
elektron yang diemisikan oleh katode Gambar 8.33.
Gambar 8.31 Blok diagram sistem osiloskop
Gambar 8.32 Pancaran elektron ke layar
pendar CRT
226
Bahan yang memantulkan cahaya pada layar CRT dapat diperoleh dari sulfid, oksid atau
silikat dari kadmium, yang diaktifkan melalui bahan tambahan dari perak, emas atau tembaga.
Pada umumnya dipilih warna hijau untuk tampilan cahaya pada layar CRT, karena mata
manusia pada umumnya peka terhadap warna ini.
Penguat Vertikal:
Penguat ini dapat memberikan tegangan hingga 100 V. Penguat ini harus dapat
menguatkan tegangan DC maupun AC dengan penguatan yang sama. Pengukuran sinyal
dapat diatur melalui tombol POS (position).
Input-Y (Vert. Input):
Bagian ini terhubung dengan tombol
pembagi tegangan, untuk membagi
tegangan yang akan diukur, dengan
perbandingan 10 : 1 atau 100 : 1. (Gambar
8.34). Tombol ini harus dibantu dengan
sinyal kotak untuk kompensasi.
Penguat Horisontal:
Penguat ini memiliki dua input, satu dari sweep generator, menghasilkan trace (sapuan)
horizontal lewat CRT dan input yang lain menguatkan sinyal eksternal dan ditampilkan pada
CRT hanya pada sumbu horizontal.
Skala pada sumbu Horisontal CRT Osiloskop, digunakan untuk mengukur waktu (periode)
dari sinyal yang diukur, misalnya 2 ms/ divisi.
Generator-Waktu
Generator waktu menghasilkan sinyal gigi
gergaji, yang frekuensinya dapat diatur, dengan
cara mengatur periodenya melalui tombol TIME
BASE. CRT akan menampilkan sinyal yang diukur
(sinyal input) hanya jika periode sinyal tersebut
persis sama dengan periode sinyal gigi gergaji ini
atau merupakan kelipatan periodenya.
Triggering dan bias waktu
Sinyal gigi gergaji akan mulai muncul jika ada
sinyal trigger (Gambar 8.35). Pada saat sinyal
input melewati level trigger, maka sinyal gigi gergaji
mulai muncul.
Gambar 8.34 Trigering memunculkan
sinyal gigi gergaji
227
Catu Daya
Kinerja catu daya ini sangat mempengaruhi kinerja bagian lainnya di dalam osiloskop.
Catu daya yang tidak terregulasi dengan baik akan menyebabkan kesalahan pengukuran
dan tampilan yang tidak baik pada CRT (fokus, kecerahan/ brightness, sensitifitas, dan
sebagainya).
8.19 Osiloskop Dua Kanal
Seringkali orang perlu melakukan pengukuran dua sinyal AC yang berbeda dalam waktu
yang sama. Misalnya kanal-1 mengukur sinyal input dan kanal-2 mengukur sinyal output
secara bersamaan, maka osiloskop dua kanal mampu menampilkan dua sinyal dalam waktu
bersamaan dalam satu layar.
Blok diagram osiloskop dua kanal Gambar 8.36 mempunyai sebuah sistem pembangkit
sinar (electron gun). Dua sinyal input dapat dimasukkan melalui kanal-1 dan kanal-2 (masingmasing
penguat-Y). Pengaktifan kedua penguat-Y tersebut dipilih secara elektronik, melalui
frekuensi yang berbeda untuk tiap kanal. Kedua sinyal input tersebut akan masuk melalui
satu elektron-gun secara bergantian lalu ditampilkan pada CRT.
Jika sinyal input mempunyai frekuensi rendah, maka sakelar elektronik akan mengaturnya
pada frekuensi tinggi. Sebaliknya, jika input sinyal mempunyai frekuensi tinggi, maka sakelar
elektronik akan mengaturnya pada frekuensi yang lebih rendah.
Tampilan sapuan ganda (dual-trace) dari electron beam tunggal dapat dilakukan dengan
2 cara, yaitu chop time sharing dan alternate time sharing. Pemilihan kanal dilakukan oleh
multivibrator yang akan mengoperasikan sakelar elektronik secara otomatis.
8.20 Osiloskop Digital
Blok diagram osiloskop digital (Gambar 8.37) semua sinyal analog akan digitalisasi.
Osiloskop digital, misalnya storage osciloscope terdiri dari:
• ADC (Analog-to-Digital Converter)
• DAC (Digital-to-Analog Converter)
• Penyimpan Elektronik
Gambar 8.35 Blok diagram Osiloskop dua kanal
228
Pada osiloskop jenis ini, semua data yang
akan ditampilkan disimpan di dalam RAM. Sinyal
analog akan dicuplik (sampling), lalu dikuantisasi
oleh ADC, yaitu diberi nilai (biner) sesuai dengan
besarnya amplitudo tersampling (Gambar 8.38).
Nilai ini dapat ditampilkan kembali secara
langsung pada layar CRT atau monitor PC melalui
kabel penghubung RS-232.
Perbedaan antara osiloskop analog dan digital
hanya pada pemproses sinyal ADC. Pengarah
pancaran elektron pada osiloskop ini sama
dengan pengarah pancaran elektron pada
osiloskop analog. Osiloskop digital ada yang
dilengkapi dengan perangkat lunak matematik
untuk analisis sinyal atau printer.
8.21 Pengukuran dengan Osiloskop
Berikut ini diberikan ilustrasi pengukuran dengan menggunakan osiloskop meliputi:
1. pengukuran tegangan DC,
2. mengukur tegangan AC, periode, dan frekuensi,
3. mengukur arus listrik AC,
4. pengukuran beda phasa tegangan dengan arus listrik AC, dan
5. pengukuran sudut penyalaan thyristor.
Gambar 8.36 Blok diagram osiloskop digital
Gambar 8.37 Sampling sinyal analog oleh ADC
229
1. Mengukur Tegangan DC,
Tahanan R1 dan R2 berfungsi sebagai pembagi
tegangan. Ground osiloskop dihubung kan ke negatip
catu daya DC. Probe kanal-1 dihubungkan ujung
sambungan R1 dengan R2. Tegangan searah diukur
pada mode DC.
Misalnya:
VDC = 5V/div. 3div = 15 V
Bentuk tegangan DC merupakan garis tebal lurus pada
layar CRT. Tegangan terukur diukur dari garis nol ke
garis horizontal DC.
2. Mengukur Tegangan AC, periode T, dan frekuensi F
Trafo digunakan untuk mengisolasi antara listrik
yang diukur dengan listrik pada osiloskop.
Jika menggunakan listrik PLN maka frekuensinya
50 Hz.
Misalnya: Vp = 2V/div · 3 div = 6 V
Vrms = 6 2
V
= 4,2 V
T = 2ms/div · 10 div = 20 ms
f = 1/T = 1/20ms = 50 Hz
Tegangan AC berbentuk sinusoida dengan tinggi
U dan lebar periodenya T. Besarnya tegangan 6 V dan
periodenya 20 milidetik dan frekuensinya 50 Hz.
Gambar 8.38 Mengukur tegangan DC
dengan osiloskop
Gambar 8.39 Mengukur tegangan AC
dengan osiloskop
230
Gambar 8.41 Mengukur beda phasa
dengan Osiloskop
3. Mengukur Arus Listrik AC
Pada dasarnya osiloskop hanya mengukur
tegangan. untuk mengukur arus dilakukan secara
tidak langsung dengan R = 1W untuk mengukur drop
tegangan.
Misalnya:
Vp = 50 mV/div · 3div
= 150 mV = 0,15 V
Vrms = 0,15 2
V
= 0,1 V
I = Vrms/R = 0,1V / 1Ω
= 0,1 A 8-26
Bentuk sinyal arus yang melalui
resistor R adalah sinusoida menyerupai tegangan.
Pada beban resistor sinyal tegangan dan sinyal arus
akan sephasa.
4. Mengukur Beda Phasa Tegangan dengan Arus Listrik AC.
Beda phasa dapat diukur dengan rangkaian C1 dan
R1. Tegangan U1 menampakkan tegangan catu dari
generator AC. Tegangan U2 dibagi dengan nilai resistor
R1 representasi dari arus listrik AC. Pergeseran
phasa U1 dengan U2 sebesar Dx.
Misalnya: ϕ = Δx · 360°/XT
= 2 div · 360°/8div = 90°
Tampilan sinyal sinusoida tegangan U1 (tegangan catu
daya) dan tegangan U2 (jika dibagi dengan R1,
representasi dari arus AC).
Pergeseran phasa antara tegangan dan arus
sebesar ϕ =900
Gambar 8.40 Mengukur arus AC
dengan osiloskop
231
5. Mengukur Sudut Penyalaan TRIAC
Triac merupakan komponen elektronika daya yang
dapat memotong sinyal sinusoida pada sisi positip dan
negatip.
Trafo digunakan untuk isolasi tegangan Triac dengan
tegangan catu daya osiloskop.
Dengan mengatur sudut penyalaan triger α maka nyala
lampu dimmer dapat diatur dari paling terang menjadi
redup.
Misalnya:
α = Δx · 360°/XT
= (1 div. 360%) : 7
= 5 V
8.22 Metode Lissajous
Dua sinyal dapat diukur beda phasanya dengan memanfaatkan input vertikal
(kanal Y) dan horizontal (kanal-X). Dengan menggunakan osiloskop dua kanal dapat
ditampilkan beda phasa yang dikenal dengan metode Lissajous.
a. Beda phasa 0° atau 360°.
Dua sinyal yang berbeda, dalam hal ini sinyal input
dan sinyal output jika dipadukan akan menghasilkan
konfigurasi bentuk yang sama sekali berbeda.
Sinyal input dimasukkan ke kanal Y (vertikal) dan
sinyal output dimasukkan ke kanal X (horizontal)
berbeda 0°, dipadukan akan menghasilkan sinyal
paduan berupa garis lurus yang membentuk
sudut 45° (Gambar 8.44).
Gambar 8.42 Mengukur sudut
penyalaan TRIAC dengan osiloskop
Gambar 8.43 Mengukur sudut penyalaan
TRIAC dengan Osiloskop
232
b. Beda phasa 90° atau 270°.
Sinyal vertikal berupa sinyal sinusoida. Sinyal horizontal yang berbeda phasa 90° atau
270° dimasukkan. Hasil paduan yang tampil pada layar CRT adalah garis bulat (Gambar
8.45).
Pengukuran X-Y juga dapat digunakan untuk mengukur frekuensi yang tidak diketahui.
Misalnya sinyal referensi dimasukkan ke input horizontal dan sinyal lainnya ke input vertikal.
fv = frekuensi yang tidak diketahui
fR = frekuensi referensi
Nv = jumlah lup frekuensi yang tidak diketahui
NR = jumlah lup frekuensi referensi
Contoh Gambar 8.46 (c). Misalnya frekuensi referensi = 3 kHz, maka fV = 3. (2/3) kHz = 2 kHz
8.23 Rangkuman
• Untuk mengukur besaran listrik DC maupun AC seperti tegangan, arus, resistansi, daya,
faktor kerja, dan frekuensi kita menggunakan alat ukur listrik.
• Multimeter untuk mengukur beberapa besaran listrik, misalnya tegangan AC dan DC,
arus listrik DC dan AC, serta resistansi.
• Alat-alat ukur analog dengan penunjukan menggunakan jarum, juga dipakai alat ukur
digital yang praktis dan membaca pada layar display.
• Parameter alat ukur listrik meliputi akurasi, presisi, kepekaan, resolusi, dan kesalahan.
• Pada awal perkembangan teknik pengukuran mengenal dua sistem satuan, yaitu sistem
metrik dan sistem CGS.
• Sejak 1960 dikenalkan Sistem Internasional (SI Unit) sebagai kesepakatan internasional.
• Besaran dan simbol parameter listrik meliputi Arus listrik (I), Gaya gerak listrik (E),
Tegangan (V), Resistansi (R), Muatan listrik (Q), Kapasitansi (C), Kuat medan listrik (E),
Kerapatan fluk listrik (D), Permittivity (ε), Kuat medan magnet (H), Fluk magnet (Φ),
Kerapatan medan magnet (B), Induktansi (L, M), Permeability (μ).
Gambar 8.45 Lissajous untuk menentukan
frekuensi
Gambar 8.44 Sinyal input berbeda phasa 90°
dengan output
233
• Ada enam besaran kelistrikan yang dibuat standart, yaitu standar amper, resistansi,
tegangan, kapasitansi, induktansi, kemagnetan, dan temperatur.
• Sistem analog berhubungan dengan informasi dan data analog. Sinyal analog berbentuk
fungsi kontinyu.
• Sistem digital berhubungan dengan informasi dan data digital.
• Bagian listrik alat ukur analog yang penting adalah, magnet permanen, tahanan meter,
dan kumparan putar.
• Bagian mekanik alat ukur analog meliputi jarum penunjuk, skala, dan sekrup pengatur
jarum penunjuk.
• Blok diagram alat ukur digital terdiri komponen sensor, penguat sinyal analog,
Analog to digital converter, mikroprosesor, alat cetak, dan display digital.
• Tampilan display digital jenisnya 7-segmen, 14-segmen, dan dot matrik 5 × 7.
• Alat ukur kumparan putar terdiri dari permanen magnet, kumparan putar dengan inti besi
bulat, jarum penunjuk terikat dengan poros dan inti besi putar, skala linear, dan pegas
spiral rambut, serta pengatur posisi nol. Dipakai untuk voltmeter, ampermeter, dan multimeter.
• Torsi yang dihasilkan alat ukur kumparan putar T = B × A × I × N.
• Untuk pengukuran listrik AC alat ukur kumparan putar dipasang diode.
• Alat ukur besi putar terdiri belitan, komponen diam, komponen putar, jarum penunjuk
dan skala pengukuran. Pengukur voltmeter dan ampermeter.
• Alat ukur elektrodinamis, memiliki dua belitan kawat, yaitu belitan arus dan belitan
tegangan berupa kumparan putar, pengukur wattmeter.
• Alat ukur piringan putar, memiliki belitan arus dan belitan tegangan terpasang dalam
satu inti besi, dipakai pada KWh-meter.
• KWh-meter satu phasa memiliki satu belitan arus dan satu belitan tegangan,
KWh-meter 3 phasa memiliki tiga belitan arus dan tiga belitan tegangan.
• Untuk menaikkan batas ukur tegangan dipasangkan tahanan seri dengan meter.
• Untuk menaikkan batas ukur arus dipasangkan tahanan yang dipasangkan paralel dengan
alat ukur.
• Pengukuran tahanan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu mengukur langsung nilai
tahanan dan pengukuran tidak langsung dengan metode jembatan.
• Jembatan Wheatstone bekerja berdasarkan prinsip keseimbangan.
• Osiloskop termasuk alat ukur elektronik, digunakan untuk melihat bentuk gelombang,
menganalisis gelombang.
• Blok diagram dasar osiloskop yang terdiri dari pemancar elektron (Electron Beam),
pembelok vertikal (Penguat-Y), pembelok horisontal (penguat-X), generator basis waktu
(Sweep Generator), catu daya, dan tabung hampa (CRT).
• Dengan menggunakan osiloskop dua kanal dapat ditampilkan beda phasa yang dikenal
dengan metode Lissajous.
234
8.24 Soal-Soal
1. Data alat ukur kumparan putar dengan dimensi 31/2 in, arus 1 mA, simpangan skala
penuh 100 derajat memiliki A: 1,70 cm2, B : 1.800 G(0,2 Wb/m2, N: 80 lilit, Hitunglah
torsi putar pada jarum penunjuk.
2. KWh-meter satu phasa memiliki konstanta putaran 600 putaran/kWh dalam waktu 2
menit tercatat 80 putaran piringan. Hitunglah beban daya listrik?
3. Gambarkan skematik pengawatan pengukuran Kwh meter 3 phasa dengan menggunakan
tiga buah trafo arus (CT) 200 A/5 A. Jelaskan cara kerja pengukuran tersebut.
4. Pengukur tegangan voltmeter memiliki arus meter 0,5 mA, tegangan meter 0,25 V. Voltmeter
akan digunakan untuk mengukur tegangan 2,5 V. Hitung besarnya tahanan seri
meter Rv.
5. Ampermeter dengan tahanan dalam Rm = 200 Ω, arus yang diizinkan melewati meter Im
= 0,5 mA. Ampermeter akan mengukur arus I = 10 mA. Hitung tahanan paralel Rp.
6. Jembatan Wheatstone, diketahui besarnya nilai R2 = 400 Ω, R3 = 250 Ω,
R4 = 500 Ω. Hitung besarnya R1 dalam kondisi setimbang.
7. Gambarkan skematik pengukuran tegangan AC menggunakan osiloskop, jelaskan urutan
cara pengoperasiannya.

Tidak ada komentar: